Langsung ke konten utama

Bukan Manusia Rata-Rata

Disaat yang lain terdiam, tidak dengannya

Disaat suasana terasa tenang, tidak dengannya

Disaat semua orang memikirkan dirinya, tidak pula dengannya

Dia bisa karena caranya bersosial

Perspektifnya, tidak seperti yang lainnya

Berusaha untuk menyamakan tapi tak bisa

Tahukah kalian siapa dia?

Dialah bukan manusia rata-rata

Bukan rata-rata manusia yang hanya sibuk dengan dirinya

Bukan rata-rata manusia yang tumpuan opininya pada kebanyakan orang

Bukan pula rata-rata manusia yang takut akan tantangan

Karena, berbeda dengan yang lain adalah tantangan baginya

Perbedaan memang bukan segalanya 

Tapi , karena perbedaan membuatnya menjadi segalanya

Jangan pernah takut berbeda

Takutlah karena kita manusia rata-rata


#puisi2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan di Ambang Karam: Menyelami Luka, Melawan Arus

     Novel The Pearl That Broke Its Shell karya Nadia Hashimi , mengangkat T radisi Bacha Posh di Afghanistan , sebuah praktik budaya yang memberikan kebebasan semu kepada anak perempuan dengan mengorbankan identitas mereka. T radisi ini biasa dilakukan masyarakat Afghanistan yg mana ketika ada didalam sebuah keluarga y an g tidak memiliki anak laki -laki , maka salah satu anak perempuannya harus dikorbankan menjadi sosok laki -laki , motifnya agar mereka bisa menjalankan aktivitas selayaknya laki -laki, seperti sekolah, keluar rumah, pergi ke pasar d an beberapa aktivitas lainnya . K ota besar di Afganistan yg persentasi bacha poshnya tinggi terletak di kota Kabul , Nangarhar dan Pashtun (Nonderg J. 2010). Menurut Andrew Gibbs dan Rachel Jewkes dalam bukunya yg berjudul " Bacha Posh i n Afg h anistan: Factors Associated w ith Raising a Girl a s a Boy ", setidaknya terdapat 3 alasan utama mengapa tradisi ini masih dilakukan yaitu :   untuk meminimali...

PHK Massal Menjelang Lebaran: Antara HAM dan “Kutukan” Ciptaker

image by https://images.app.goo.gl/74ZA4 Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menjelang Hari Raya Idul fitri kembali menghantui para pekerja di Indonesia, khususnya mereka yang berada di sektor manufaktur dan garmen. Alih-alih merayakan lebaran dengan penuh suka cita, ribuan pekerja justru harus menghadapi ketidakpastian nasib dan kehilangan mata pencaharian. Ironisnya, momen sakral kebersamaan justru dirusak oleh keputusan sepihak sejumlah perusahaan yang memprioritaskan efisiensi di atas kemanusiaan. Salah satu kasus terjadi di sebuah perusahaan tekstil di wilayah Bogor, yang memutus hubungan kerja dengan lebih dari 100 pekerja harian lepas tanpa melalui prosedur yang sesuai ketentuan. Bahkan, status pekerja harian lepas tersebut diperpanjang secara tidak sah meskipun telah memenuhi syarat untuk diangkat sebagai pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Ayat (3) dan (4) Peraturan Pemerintah (PP) No. 35 Tahun 2021. Pasal ter...