Langsung ke konten utama

Saling Mengenal Dulu Kuyy..

Assalamu’alaikum wr.wb..
Salam sejahtera untuk kita semua..

      Hello Sahabat My Diary online, yang tentunya sedang membaca entah dimana kalian berada? Lama-lama gue nyanyi lagu Ayu ting-ting dah ‘Alamat Palsu’. *eeaakkss.
Apalagi nih? Hemmm… oiya, Nama. Nahh.. Nama gue itu panjang banget 21 Huruf. Tapi gue mau kasih tau nama panggilannya aja yak.. (udah ngapa tak usah basa-basi). 
Nama gue Nida Zayn Malik(Keturunan Zayn malik nih) tau Zayn Malik tak? Kalau tak tau cari tau sendiri aja yak, wekkss.. gue tak mau kasih tau nanti lo, lo, lo pada ngefans sama gue..

    Ahh.. udah ya, capek gue perkenalan mulu. Ini serius ya, Oke Disimak yak..Hemmmm… Nama Gue Aula Nidaan Khofia Zaini, biasa dipanggil Nida. Gue lahir Dalam Rumah sakit, Di atas kasur, Dari Rahim ibu, umur gue sekarang masih muda banget. Gue sekolah di tempat persekolahan SMA yang fenomenal*eakkss*. Sekolah penuh Fenomena Alam maksudnya, *eh.
 Hemmmm... ngomong2, udah sampai sini aja ya perkenalannya, Kalau mau Kenal langsung aja kuy cuss ke Facebook.

Tunggu Postingan gue yang lain yak..
See You in Next My Post..
Wassalamu'alaikum wr.wb..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan di Ambang Karam: Menyelami Luka, Melawan Arus

     Novel The Pearl That Broke Its Shell karya Nadia Hashimi , mengangkat T radisi Bacha Posh di Afghanistan , sebuah praktik budaya yang memberikan kebebasan semu kepada anak perempuan dengan mengorbankan identitas mereka. T radisi ini biasa dilakukan masyarakat Afghanistan yg mana ketika ada didalam sebuah keluarga y an g tidak memiliki anak laki -laki , maka salah satu anak perempuannya harus dikorbankan menjadi sosok laki -laki , motifnya agar mereka bisa menjalankan aktivitas selayaknya laki -laki, seperti sekolah, keluar rumah, pergi ke pasar d an beberapa aktivitas lainnya . K ota besar di Afganistan yg persentasi bacha poshnya tinggi terletak di kota Kabul , Nangarhar dan Pashtun (Nonderg J. 2010). Menurut Andrew Gibbs dan Rachel Jewkes dalam bukunya yg berjudul " Bacha Posh i n Afg h anistan: Factors Associated w ith Raising a Girl a s a Boy ", setidaknya terdapat 3 alasan utama mengapa tradisi ini masih dilakukan yaitu :   untuk meminimali...

PHK Massal Menjelang Lebaran: Antara HAM dan “Kutukan” Ciptaker

image by https://images.app.goo.gl/74ZA4 Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menjelang Hari Raya Idul fitri kembali menghantui para pekerja di Indonesia, khususnya mereka yang berada di sektor manufaktur dan garmen. Alih-alih merayakan lebaran dengan penuh suka cita, ribuan pekerja justru harus menghadapi ketidakpastian nasib dan kehilangan mata pencaharian. Ironisnya, momen sakral kebersamaan justru dirusak oleh keputusan sepihak sejumlah perusahaan yang memprioritaskan efisiensi di atas kemanusiaan. Salah satu kasus terjadi di sebuah perusahaan tekstil di wilayah Bogor, yang memutus hubungan kerja dengan lebih dari 100 pekerja harian lepas tanpa melalui prosedur yang sesuai ketentuan. Bahkan, status pekerja harian lepas tersebut diperpanjang secara tidak sah meskipun telah memenuhi syarat untuk diangkat sebagai pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Ayat (3) dan (4) Peraturan Pemerintah (PP) No. 35 Tahun 2021. Pasal ter...