Langsung ke konten utama

AYMERIC LAPORTE MENCARI KESEMPATAN BERSAMA SPANYOL

  Merasa ditolak tanah kelahiran, kesabaran Aymeric Laporte akhirnya habis. Pemain berusia 22 tahun tersebut dilaporkan siap memperkuat negara yang mengadopsinya, Spanyol.
 

   Laporte dilaporkan sudah memberi lampu hijau agar Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) mengurus birokrasi agar dirinya bisa tampil di pentas in ter na sio - nal. Kini, RFEF 
harus bergerak cepat dan menyelesaikan semua dokumen agar Prancis tidak bisa me - manggilnya pada pengumuman skuad bulan depan. Bek Athletic Bilbao itu bisa memiliki paspor Spanyol karena moyangnya ber - asal dari Basque.
 

  Dia juga sudah meme - nuhi syarat lain dengan berdo misili di Negeri Matador sejak berusia 16 tahun. Laporte lahir di Agen, barat daya Prancis. Dia memperkuat tim nasional Prancis di berbagai level usia dan menjabat kapten pada semua tim. Pada kesempatan sebelumnya, Laporte menyatakan hanya akan mempertimbangkan tawaran Spanyol jika Prancis tidak memanggilnya untuk Piala Eropa 2016.
 

   Namun, dia terkena cedera parah beberapa bulan sebelum turnamen sehingga namanya tidak dipertimbangkan. Selama menjalani rehabilitasi cedera, Laporte tetap menjaga hasrat membela tanah kelahiran. Namun, Didier Des - champs tetap mengabaikannya. Laporte kembali tidak masuk skuad uji coba ver - sus Italia (1 September) dan laga kuali - fikasi Piala Dunia 2018 melawan Belarus (6 September). Deschamps lebih memilih merekrut Laurent Koscielny, Adil Rami, Raphael Varane, dan Samuel Umtiti. Selama ini Spanyol hanya memantau.
 

   Vicente del Bosque, pelatih timnas 2008- 2016, bahkan menyerah mengetahui kecilnya peluang mendapatkan Laporte. Kini, Julen Lopetegui memimpin operasi naturalisasi pemain berpostur 189 cm tersebut. “Laporte pemain berkualitas. Kehadirannya bakal menambah kualitas kami,” kata gelandang Spanyol Koke Resurreccion, dikutip FourFourTwo.
 

   Laporte dianggap sebagai salah satu bek muda terbaik saat ini. Barcelona dan Manchester City dilaporkan siap menebus klausul penjualan 65 juta euro demi mendapatkannya. Tapi, Laporte menolak pinangan mereka karena enggan jadi cadangan. Di level internasional, Laporte sebenarnya memiliki peluang lebih besar menjadi starter bersama Les Bleus. Sebab, hanya Koscielny yang pasti menjadi pilihan utama. Sementara satu posisi lain diperebutkan Varane, Rami, dan Umtiti.
Sedangkan Spanyol sudah punya kombinasi solid Sergio Ramos-Gerard Pique. Laporte juga mesti bersaing melawan Marc Bartra dan Javi Martinez untuk melapis duet utama. “Kemungkinan hadirnya Laporte tetap penting. Adanya persaingan meru - pakan hal baik dan timnas turut diun - tungkan,” ujar wingerSpanyol Lucas Vazquez.


Sumber :http://www.koran-sindo.com/news.php?r=3&n=2&date=2016-09-01  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan di Ambang Karam: Menyelami Luka, Melawan Arus

     Novel The Pearl That Broke Its Shell karya Nadia Hashimi , mengangkat T radisi Bacha Posh di Afghanistan , sebuah praktik budaya yang memberikan kebebasan semu kepada anak perempuan dengan mengorbankan identitas mereka. T radisi ini biasa dilakukan masyarakat Afghanistan yg mana ketika ada didalam sebuah keluarga y an g tidak memiliki anak laki -laki , maka salah satu anak perempuannya harus dikorbankan menjadi sosok laki -laki , motifnya agar mereka bisa menjalankan aktivitas selayaknya laki -laki, seperti sekolah, keluar rumah, pergi ke pasar d an beberapa aktivitas lainnya . K ota besar di Afganistan yg persentasi bacha poshnya tinggi terletak di kota Kabul , Nangarhar dan Pashtun (Nonderg J. 2010). Menurut Andrew Gibbs dan Rachel Jewkes dalam bukunya yg berjudul " Bacha Posh i n Afg h anistan: Factors Associated w ith Raising a Girl a s a Boy ", setidaknya terdapat 3 alasan utama mengapa tradisi ini masih dilakukan yaitu :   untuk meminimali...

PHK Massal Menjelang Lebaran: Antara HAM dan “Kutukan” Ciptaker

image by https://images.app.goo.gl/74ZA4 Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menjelang Hari Raya Idul fitri kembali menghantui para pekerja di Indonesia, khususnya mereka yang berada di sektor manufaktur dan garmen. Alih-alih merayakan lebaran dengan penuh suka cita, ribuan pekerja justru harus menghadapi ketidakpastian nasib dan kehilangan mata pencaharian. Ironisnya, momen sakral kebersamaan justru dirusak oleh keputusan sepihak sejumlah perusahaan yang memprioritaskan efisiensi di atas kemanusiaan. Salah satu kasus terjadi di sebuah perusahaan tekstil di wilayah Bogor, yang memutus hubungan kerja dengan lebih dari 100 pekerja harian lepas tanpa melalui prosedur yang sesuai ketentuan. Bahkan, status pekerja harian lepas tersebut diperpanjang secara tidak sah meskipun telah memenuhi syarat untuk diangkat sebagai pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Ayat (3) dan (4) Peraturan Pemerintah (PP) No. 35 Tahun 2021. Pasal ter...